Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan

mabok kanji

0 komentar

Hi guys, sebelumnya minta maaf kalau postingan saya kali ini roaming untuk sebagian dari kalian. Dan gua akui~, ini salah satu postingan tergeje saya karena saya sadar sebagian besar orang yang saya temui adalah orang-orang yang berbahasa Indonesia. Why? Karena malem ini entah kenapa gua gatel pingin berautis ria dengan bahasa Jepang. ==’ Topik yang lama sekali tidak saya bahas semenjak saya masuk kuliah. Dan saya lagi pengin cerita tentang kanken (abbr. Nihon Kanji Nouryoku Kentei 日本漢字能力検定 a.k.a. sejenis TOEIC bahasa Jepang khusus bagian reading). Dan memang pangsa pasar topik ini adalah bagi mereka penikmat kanji. Yah, semoga saja ada orang yang sejalan dengan saya yang nyasar ke sini karena berhubungan dengan topik ini. Wkwkwkwkwk…

OK, let’s start~!

thanks to foxeo: 250 ManNin no KanKen

thanks to foxeo: 250 ManNin no KanKen

Dulu pas SMA, pas lagi pede-pedenya baru khatam ngapalin Touyou Kanji 当用漢字 dan beberapa Jouyougai 常用外, beuh~ saya lagaknya nggak ketulungan. Untuk menjaga image, setiap kali ngeliat tulisan berbentuk sejenis cacing, saya akan selalu berusaha untuk tidak memandang deretan huruf itu terlalu lama dan sesegera mungkin memandang ke arah lain dengan harapan saya sudah paham apa yang dimaksud tulisan geje itu. Walau sering banyak nggak pahamnya. Wkwkwkwkw… Dodol banget dah.

Sampai akhirnya ada orang yang ngenalin ke saya maenan yang namanya kanken. Dan iseng-iseng saya mencoba membaca soalnya yang tersedia di situs resminya di sini. Jrerereng~! Berikut reka ulangnya jika dijadikan percakapan.

“Eh, ada ya test laen selain Nouryoku Shiken 能力試験 (red, kalau tadi sejenis TOEIC, ini sejenis TOEFL)?”
“Lah, ini kan juga Nouryoku Shiken, cuman khusus Kanji doang”
“Coba liat~”

Saat itu di pikiran saya 2000 kanji Jepang itu sudah sangat wah untuk dipakai (NB. kalau China 3000 kanji). Dan dengan semangat kepedean yang luar biasa saya coba baca testnya. Berikut adalah baris pertama yang agak sangat membekas di ingatan saya pada hari itu.

漢検 平成11年度 (1999年度) 第3回 文部省認定 日本漢字能力検定 試験問題

artinya kira-kira: Soal Ujian Kanken Ketiga Thn. 11 Heisei (1999) – Sertifikasi Kementrian Pendidikan

Disusul dengan instruksi seperti ini

(一) 次の傍線部分の読みをひらがなで記せ。1~15は音読み、16~30は訓読みである。

artinya kira-kira: Kasih cara baca hiragana untuk yang digaris (red, di post ini saya kasih warna merah). 1~15 on’yomi (red, cara baca derivatif China), 16~30 kun’yomi (red, cara baca Jepang).

Sampai di sini saya rada mengernyit. Karena terlalu banyak huruf hiragana yang menurut saya sangat redundan. Pikir saya saat itu masak test kanji nggak serius gini nulis kanjinya. Kalau dengan metode sotoy, harusnya instruksi di atas ditulis dengan lebih efisien sebagai berikut.

(一) 次の傍線部分の読みを平仮名で記せ。1~15は音読、16~30は訓読である。

Okelah, saya anggap instruksi soal di sana adalah instruksi yang ditulis dengan ejaan yang baik dan benar. Kemudian saya langsung baca soal pertama.

問1 1

問1 1

Spontan mulut saya ternganga nggak tahu harus ngomong apaan. (Bagi anda yang paham tulisan Jepang pasti paham perasaan saya kenapa saya ternganga. ^^;) Bener-bener di luar dugaan. Instruksi soal yang ditulis dengan innocentnya bak anak SD kebanyakan, ternyata dengan suksesnya menipu isi soal sebenarnya. Terbengong saya membaca sepenggal kalimat yang nongol di pojok kanan sendiri dengan jumlah huruf nggak lebih dari 8. Alamakjoooongggg….!

“Kanji apaan nih?! (o_O;)”
“Tralala banget kan?”
“Bwahahahahahaha!!!”

Spontan saya ngakak dengan lebaynya.

Soal 1; hanya satu kata yang saya tahu cara bacanya, tayoru 頼る. Btw, walau saya agak bisa menerka-nerka arti dua kata di depan, saya benar-benar belum pernah melihat huruf-huruf itu digandeng sedemikian rupa sehingga cara bacanya bener-bener unidentified. Ini huruf di depan ini miko 巫女… Terus 覡 ini dibaca gen gitu? 巫覡 = migen? Lah, tapi kan miko itu cara baca trivial. Terus 詫 ini dibaca wabi atau taku? 詫宣 = wabisen atau takusen? Bukannya takusen itu tulisannya 託宣 gini ya?

OMG, saya malah merenungi huruf-huruf yang nggak ditanyakan soalnya. Karena penasaran saya coba melihat 29 kalimat sisa di sebelah kiri.

問1 0230

問1 0230

Oh Tuhan… Saya cuman bisa bengong dan melotot. Blas~… Gatot! Gagal total~, nggak ada yang yakin gua bisa baca kata-kata yang warna merah itu. Saya pun tobat saat itu tidak akan sombong lagi. Wokwokwok… Dan semakin ke bawah soalnya semakin geje segeje-gejenya. Kanji-kanji sebelum PD II keluar juga.

Berikut instruksi-instruksi selanjutnya bin geje bin membosankan bin monoton dengan tema yang nggak jauh-jauh amat. “Coba tebak huruf kanji dari huruf kata-kata yang ditulis katakana ini.” “Coba tulis kanji versi jepang dari kata-kata ini.” “Coba cari huruf yang seharusnya bisa ditulis pake kanji versi lama.” “Ini bacaannya apa?” “Coba tulis kanjinya dari dua kata homofon ini.”

Dan ini contoh soal homofon.

卒寿を超してなおカクシャクとしている。
カクシャクたる陽光が輝く。

Jawabannya, kalau yang pertama, カクシャク = 矍鑠. Adapun yang kedua, カクシャク = 赫灼. Begitulah kata kunci jawaban.

Hih~! Kalau yang ini artinya aja gua nggak ngerti. -_-”

Soal bagian jukujikun ama ateji 熟字訓・当て字 (red, huruf-huruf yang klo ketemu sama huruf-huruf tertentu jadi trivial bunyinya) juga nggak nanggung-nanggung tingkat kedodolannya. Berikut adalah kunci jawaban soal yang menurut saya lumayan berkesan.

熟字訓・当て字

熟字訓・当て字

Yap, jukujikun ama ateji adalah episode pemaksaan cara baca kanji yang menurut gua paling tralala dibanding pemaksaan cara baca kanji-kanji yang lainnya. Untuk bodo-bodoan, seinget gua, 鳳 dibaca ootori atau hou, dan 梨 bisa dibaca nashi atau ri. Jadi, seharusnya 鳳梨 paling nggak dibaca houri. Dan gua nggak tahu siapa yang duluan ngasih ide 鳳梨 dibaca sebagai painappuru a.k.a. pineapple versi katakana. ==’ Kemudian 善知鳥. Seinget gua nggak ada satupun on’yomi yang memungkinan untuk membaca 善 = u, 知 = to, 鳥 = u. Seharusnya, 善 = zen, 知 = chi, 鳥 = chou. Atau kalau maksa, 善知 = u, 鳥 = tou. Tapi, kalau mau konsisten harusnya kan tou ditulis pake huruf shima 島. Ntah vava. ==’ Dan terakhir, mil, satuan jarak, ditulis dengan 哩. Padahal akan lebih terasa oriental jika tetap dibaca sebagai ri, bukan dibaca versi inggris katakananya, mairu. Tapi ntah vava juga. Mengingat kanji 瓩 ini dibaca sebagai kiroguramu a.k.a kilogram dan 糎 dibaca sebagai senchimetooru a.k.a centimeter.

Lebay tralala nih test. Maniak doang keknya yang doyan test-test beginian. Dan belakangan saya mahfum, soal yang ditunjukkin ke saya itu memang soal buat para kanji freak level 1.

Berdasarkan definisi; Level 1: Menguasai 6000 kanji, baik berbagai macam versi cara baca on dan kun, dan tahu penggunaan paling tepat dalam kalimat. Level semi-1: Menguasai 3000 kanji, tralala dan tralala. Level 2: Menguasai kanji SD, SMP, dan SMA, tralala dan tralala. dst… dsb… dll… Level 10: Menguasai kanji kelas 1 SD.

Waow~… Yang bikin orangnya gimana ya. ==’

Dan berikut adalah skrinsyut contoh soalnya.

Page 1 Question

Page 1 Question

Dan ini jawabannya.

Answer

Answer

Dan kembali ke soal 1. Jawabannya; 巫覡 = fugeki.

OK… fugeki dan migen itu jauh sekali bedanya kalau didengar…

Pelajaran yang saya dapat di sini adalah, mari kita buang sampah pada tempatnya… ==’ Emmm, salah… Yang bener, walau paham maksud dan arti suatu kata, tapi belum tentu tahu gimana cara bacanya. Dan satu lagi, jangan percaya dengan cara baca kanji on’yomi parsial (walau kadang-kadang boleh juga sih). Terbukti, 覡 tidak sama cara baca on’nya dengan on milik 現. Dan test ini akan terus mempermainkan ingatan dengan kanji-kanji mirip yang sama sekali nggak persis cara bacanya. Btw, nice try wae lah.

Dan saya masih belum kebayang jika yang keluar kanji 生. Down lah kalau yang ini.

きる = ikiru
い立つ = oitatsu
徒 = seito
中継 = nama-chuukei
= sesshou
える = haeru
む = umu
= mibu
花 = ikebana
= tanjou



dll

Hah… Menurut saya, kanken memang tampaknya mengasyikkan. Tapi khusus untuk level semi-1 dan level 1, tampaknya itu semacam game kuat-kuatan menghapal kanji. Dan, kanji Jepang sendiri menurut saya sudah cukup menyiksa untuk dihapalkan 2000 huruf ke atas. Jadi yah… ahahaha… bagi kalian yang pengguna kanji baik China maupun Jepang, apresiasilah kanji sewajarnya. Toh kanji juga akhir-akhirnya akan kita nikmati sebagai “cerita bergambar”.

Oh, gua barusan nemu video asyik buat yang lagi belajar kanji Jepang. Lumayan buat refreshing 1945 kanji-kanji dasar yang dipakai sehari-hari.

The Surprising Wealth and Success of Japan

0 komentar

What is the difference between a developed society that has remained in an economic slump for 20 years and one with steady prosperity for the same period of time? The answer is not clear. But that question dogged my mind in a recent two week visit to Japan after a gap of 20 years.

The Japan of today is amazingly prosperous. The first thing you notice is that it is spic and span clean: not a cigarette butt on a station platform; metro car floors you could eat off of; all new autos including many Mercedes and BMWs; endless flows of prosperous Japanese students and other tourists; ultra modern buildings everywhere; restaurants full of diners; Kobe beef at $250 or more a pound. In back streets of Tokyo and Kyoto, there is not a sign of poverty, dirt, or disease.

This picture of Japan is radically at odds with global expectations after decades of slow or non-existent economic growth and deflation. What is going on, and what can we learn from it?
Economists' definition of success is all about dynamic growth. So how has Japan created steady prosperity in recent years?

Japan has a per capita income comparable with the United States, but its 20-year growth rate has been anemic. Its birth rate is well below the average for developed nations, but its savings rate remains among the highest in the world. Consumption as a percentage of GDP is well below the United States. Its stock market remains stagnant and well below its historical highs. Its interest rate levels are as low as a negative rate in some cases.

But, after its property bubble burst about 1990, it largely avoided the excesses in housing markets and derivatives that caused the serious credit problems in the US in 2008. Its unemployment rate remains very low because its employment polices insure a job for almost all citizens. And, of course it is very different from all other developed nations in that it is still an island state home to 130 million people, 90 percent of whom are pure ethnic Japanese with few religious issues and minimal immigration.

How have they navigated these past two decades with such steady results? Despite a lot of political turnover they are still a monolithic society with a remarkable sense of togetherness. One small but telling example is that a large percentage of Japanese people start their days exercising either in public, or at home to the same TV hosts. (Is it possible that a nation that exercises together and works together stays together?) There is a much smaller gap between the highest paid and least paid than in the US; although, there is also less social mobility and less innovation and entrepreneurship than in the US.

It is generally easier to allocate more than less. But the Japanese seem to have done more with less by making their people reasonably happy despite fewer resources. This surely has roots in Japanese welfare, with its remarkably fair treatment of people of all ages and needs, and Japanese education, a world leader built on intensive early literacy lessons and a "distillation" methodology that identifies and caters to the best students. Throughout their education and lives, Japanese teamwork and collective good is stressed and rewarded. This all for one, one for all mentality is rare in today's world, but it serves Japan well.

Overall Japanese economic growth appears to have stalled in the last twenty years, and as a result its public debt has reached dramatic levels that would make American deficit hawks shudder. But unlike the United States, the Japanese own much of their debt, and their willingness to save through government bonds pays off in infrastructure investments in transportation and internet access.

Global headlines describe Japan as a sluggish basket case. But as Europe comes to grips with a common currency and fractured fiscal policies and the United States faces its own excesses, one has to wonder whether Japan may not have quietly, possibly even unintentionally, discovered a new way to manage its economy: a low-inflation system that sacrifices dynamism for steadiness.

The Japanese seem to have discovered that their national wellbeing can be achieved even with declines in relative economic prosperity. Their population seems to be willing to make shared sacrifices to maintain the elements of daily life that they consider most important: social harmony and order, safety and environmental health.

As the leading economists' definition of economic success is all about consistent growth, how come Japan has, under the radar, defied the odds and created steady prosperity in recent years without the harmful inevitable excesses of volatility that seem to come with a singular pursuit of growth? One thing that stands out immediately is low birth and immigration rates. How much of that is conscious policy based is not clear. Another thing that helps them it seems is that the Yen is not a reserve currency. Despite their domestic level of debt, the Yen has continued to get stronger. Another factor perhaps is that their banking system, despite its upheaval twenty years ago after their property bubble burst, and their savings rate remain strong and vibrant so that Japan is free from concerns about the actions of foreign lenders.

That said perhaps a deeper wider understanding of the current Japanese "success" and their apparently stable prosperity might inform some constructive new thinking elsewhere among the world's political/economic gorillas about their fixation on growth.
 
Free Website TemplatesFreethemes4all.comFree CSS TemplatesFree Joomla TemplatesFree Blogger TemplatesFree Wordpress ThemesFree Wordpress Themes TemplatesFree CSS Templates dreamweaverSEO Design